pantai

pantai

Jumat, 11 Juli 2014

Laut



LAUT
Aku sangat luas sebenarnya aku sangat indah dan aku bisa menyejukan semua makhluk hidup. Tubuhku yang sangat menakjubkan dunia begitu sempurna,, aku juga bisa bermanfaat bahkan aku juga bisa menakuti makhluk di dunia. Itu lah aku LAUT,, kau tau aku sangat indah bukan,, lihatlah dengan mata mu,, lalu dengarkan nyanyian ku yang sangat menenangkan dengan seruan ombak.. ikan ikan, lamun, binatang laut, karang, rumput laut,, mutiara pun aku punya.
Siapa yang menciptakan diriku ini semuanya hanya ALLOH SWT... Subhanalloh......
Sayangin aku lindungi aku pasti aku akan bermanfaat untuk kalian,, tetapi jika aku dirusak itu menyakiti aku,, aku akan marah dan akan pula membuat kalian menderita... maka hiduplah dengan indah bersama ku... pasti semuanya akan sangat indah,,, ^^

Minggu, 28 Oktober 2012

Penyakit dan Parasit Ikan


TUGAS TERSTRUKTUR
PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

”PENULARAN PENYAKIT BERCAK PUTIH (WSSV) PADA UDANG”



 





  


Disusun oleh :
IDA MULYANI       H1I011005





JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012

I.                   PENDAHULUAN
Penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV) adalah penyakit virus yang paling mematikan dan menyebabkan kerugian yang cukup besar pada indutri budidaya udang tambak (Wahjuningrum et. al., 2006). Keganasan penyakit bercak putih viral ini tidak hanya berdampak pada udang windu saja tetapi dapat berdampak pada spesies krustasea lainnya. Karena itu wabah penyakit dan penyebarannya harus dicegah (Anonim, 2007).
A.                TANDA SERANGAN
1.      Tanda bercak putih pada kulit udang dengan diameter 0,5-2 mm .
2.      Kondisi udang melemah, berenang kepermukaan, kemudian minggir ke pematang tambak dan mati.
3.      Tanda bercak sering tidak terdapat, tetapi kematian yang terjadi dalam skala logaritmis, yaitu kematian pada hari berikunya mencapai 10 kali lipat, dan biasanya hanya dalam waktu antara 3-5 hari sejak gejala kematian pertama teramati kematian sudah mencapai 100%.

B.                 FAKTOR PEMICU TIMBULNYA PENYAKIT
a.      Blooming fitoplankton kemudian mengalami secara mendadak (dye off).
b.      Kadar oksigen rendah (< 3 ppm).
c.       Terjadi flutuasi pH harian yang besar (> 0,5).
d.     Rendahnya temperature air tambak (< 25 0C)
e.      Turun hujan secara mendadak
f.        Pengelolahan pakan yang kurang baik.

C.                ORGANISME PENYAKIT
Penyebab penyakit bercak putih adalah virus White Spot Syndrome Virus. Virus ini merupakan virus berbahan genetic DNA berbentuk batang, dari keluarga Nimarividae genus Whispovicus. Organ yang terinfeksi adalah kaki jlan, kaki renang, insang, lambung, otot abdomen, gonad, intestinum, karapas, jantung sehingga menimbulkan infeksi yang menyeluruh (Anonim, 2007). Infeksi terutama terjadi pada saat stadia pramolting, sehingga menimbulkan pola bercak pada saat pasca molting, karena kerusakan sel ektoderman yang mengakibatkan penimbulan kalsium ke karapas terganggu(Anonim, 2007).

II.                CARA PENULARAN PENYAKIT
Penularan penyakit terjadi hanya melalui perantara “Carrier” ( Jambret, udang liar, kepiting, rajungan dan benih udang windu yang ditebar sudah terkontaminasi di pebenihan). Bangkai udang windu yang sudah terinfeksi oleh WSSV apabila dimakan oleh udang sehat apat mengakibatkan terjadinya penularan virus (Anonim, 2007). Selain itu penularan penyakit ini berasal dari spesies udang impor terhadap spesies udang lokal yang terjadi apabila virus dapat beradaptasi pada inang baru(Anonim, 2010).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Pencegahan Bercak Putih (WSSV) pada Udang di Tambak. DKP. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara.
-----------, 2010. White Spot Syndrome Virus Penyebab Turunnya Produks Udang Windu. Universitas Gadjah Mada.
Wahjuningrum, D., Sholeh S.H., Nuryati, 2006. Pencegaham Infeksi Virus White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Udang Windu Panaeus monodon dengan Cairan Ekstrak Pohon Mangrove (CEPM) Aviennia sp. dan Sonneratia sp.. Jurnal Akuakultur Idonesia, 5: 65-75.

Selasa, 26 Juni 2012

FAKTOR INTRINSIK KERUSAKAN PRODUK IKAN


TUGAS TERSTRUKTUR
MIKROBIOLOGI AKUATIK

FAKTOR INTRINSIK YANG MENDORONG KERUSAKAN PRODUK IKAN



Description: Description: Description: C:\Users\ACER\Pictures\LOGO\logo unsoed.jpg

           

    Oleh :
               Ida Mulyani               (H1I011005)











KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN PERIKANAN KELAUTAN
PURWOKERTO

2012

FAKTOR INTRINSIK YANG MENDORONG KERUSAKAN PRODUK IKAN
Faktor intrinsik yang mendorong kerusakan produk ikan adalah menurunnya komposisi bahan, nilai pH, kandungan dan ketersediaan air serta potensial oksidasi reduksi yang kecil. Proses-proses yang berlangsung pada bahan yaitu :
a)      Putrefaksi
Merupakan proses proteolysis pada keadaan anaerob ditunjukkan oleh adanya bau busuk akibat senyawa amine.
b)     Fermentasi
Merupakan fenomena bahwa bahan-bahan organic dihidrolisis oleh mikroorganisme.
c)      Ransiditasi
Ransiditas merupakan kerusakan lemak meliputi ransiditas hidrolitik dan ransiditas oksidatif. Ransiditas hidrolitik terjadi secara spontan karena pengaruh luar. Spontan terjadai karena dalam lemak terdapat enzym lipase yang tidak aktif, tetapi kalau substratnya sesuai akan aktif dan menghidrolisis lemak dalam pangan tersebut. Ransiditas oksidatif  secara spontan dapat terjadi adanya pengaruh oksigen, kemudian terjadi hidrolisis secara spontan.
d)     Nilai pH
Nilai pH mempengaruhi proses berlangsung kerusakan produk ikan melalui macam-macam mikroba yang tumbuh dan adanya proses biokimiawi yang berlangsung.

Kerusakan ikan dapat dicirikan dengan adanya perubahan bau menjadi bau busuk, terjadinya lendir, adanya perubahan rasa menjadi asam, tumbuhnya kapang, jamur, tekstur daging ikan menjadi lunak akibat dekomposisi atau hidrolisis enzimatis dan lain-lain. Proses kerusakan ikan setelah mati antara lain sebagai berikut :
a.      Prerigor mortis
-          Daging masih kenyal
-          pH 7
-          sarkomer mengalami relaksasi
b.      Rigor mortis
-          Sarkomer mrngalami kontraksi
-          Aktin dan myosin mengalami actomiosin
-          Dading ikan kaku
-          pH 6
c.       Tender
-          Protein sarkoplasma terhidrolisis
-          Sarkomer rusak
-          Sruktur kolagen berubah
d.     Autoksis
-          Enzyme endogen aktif
-          pH 7

e.      Aktivitas mikroorganisme
-          Adanya mikroba flora dan kontaminan
Contoh jurnal : Kajian sensori dengan metode demerit point score terhadap penurunan kesegaran ikan nila selama pengesan.
Sinopsis jurnal :
Kajian sensori dengan metode demerit point score terhadap penurunan kesegaran ikan nila (Oreochromis niloticus) selama pengesan telah dilakukan. Kajian dilakukan dengan mematikan ikan nila hidup secara hypothermia, dan ikan yang telah mati disusun dalam kotak berinsulasi yang berisi es dengan perbandingan es : ikan = 2:1 (b/b), selanjutnya kotak disimpan pada suhu ruang dan setiap hari dilakukan penggantian es yang mencair. Pengamatan terhadap kemunduran mutu ikan dilakukan secara sensori setiap 3 hari dengan metode scoring yang didasarkan pada Demerit Point Score/DPS untuk ikan mentah dengan parameter kenampakan, mata, insang, perut, anus, dan rongga perut menggunakan skala 0–3.
Pengamatan dilakukan terhadap ikan yang sudah matang dengan parameter bau, rasa, dan tekstur menggunakan skala 0–10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila segar dapat disimpan sampai 15 hari dan setelah 18 hari sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Saat penyimpanan 18 hari, nilai DPS ikan mentah adalah 25,9 sedangkan nilai penerimaan nila matang adalah 5,7.
Parameter mengalami penurunan nilai selama penyimpanan adalah kenampakan, mata, insang, dan rongga perut, sedangkan penurunan nilai parameter anus dan kondisi perut berjalan lebih lambat, bahkan untuk atribut kondisi kulit dan lendir permukaan pada parameter kenampakan umum dan kondisi anus pada parameter anus tidak berkorelasi positif dengan waktu penyimpanan. Pada saat ikan ditolak, kondisi warna ikan telah kusam, sisik mudah lepas, mata berkabut, warna insang pudar dengan lendir tebal dan berbau agak basi, rongga perut kuning kecoklatan dan warna darah coklat, bau ikan matang asam agak basi dan rasa ikan amis agak asam. Peningkatan DPS maupun penurunan nilai penerimaan nila kukus berkorelasi positif dengan peningkatan waktu penyimpanan dengan koefisien korelasi (R) masing-masing 0,97 dan 0,93.